Hakikat Menuntut Ilmu

142

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, (Direktur DD Pendidikan, Founder Sahabat Remaja Indonesia)

Sejatinya, hakikat menuntut ilmu adalah untuk menambah iman dan mengokohkan takwa. Maka, jika kita gemar datang ke majlis ilmu, namun tak menambah iman dan menguatkan takwa, merugilah kita. Ilmu yang kita peroleh sebatas menambah wawasan pengetahuan. Berhenti sampai akal pikiran, namun tak sampai menghunjam ke hati terdalam.

Bal’am bin Baura dan Haman adalah cendekiawan pada masa Nabi Musa ‘Alaihissalam. Namun, ilmunya tak mampu menuntunnya kepada kebenaran. Bahkan, keduanya memposisikan diri sebagai penentang dakwah Nabi Musa.

Sebaliknya, Habib bin Suri An-Najar, si tukang kayu. Ia bukan orang ‘alim. Teramat singkat dia belajar kepada para Rasul. Namun, ilmu yang setitik itu menghunjam ke hati terdalam. Hingga, membawanya pada iman. Lalu, mendorongnya untuk syiarkan agama Islam meski ia hanya mengajak-ngajak orang agar ikuti para Rasul. Ia posisikan dirinya berada dalam barisan para Rasul.

Maka, kita menjadi mafhum, menuntut ilmu sejatinya untuk menambah iman dan menguatkan takwa. Bukan menambah wawasan pengetahuan semata. Ini nomor sekian. Karena itu pula, kita menginsyafi, ada orang yang hanya paham satu ayat, tapi diamalkan dan mengantarnya pada takwa. Sementara, ada orang yang fasih dan mendalam keilmuannya, namun tak mengantarnya pada takwa. Maka, tiada guna sederet gelar akademisnya.

Ini tentang kebeningan niat menuntut ilmu dan memahami hakikat menuntut ilmu. Karena, sejatinya ulama (orang berilmu) itu adalah orang yang paling takut kepada Allah.

BAGIKAN